JIKA KAMU BERSYUKUR, ALLAH AKAN MENAMBAH NIKMAT DAN REZEKI
Pendahuluan
Syukur merupakan salah satu akhlak mulia yang sangat ditekankan dalam ajaran Islam. Setiap manusia memperoleh nikmat dari Allah SWT, baik berupa kesehatan, umur, keluarga, harta, pekerjaan, ilmu, kesempatan beribadah, maupun ketenangan hati. Namun, tidak semua orang menyadari bahwa seluruh nikmat tersebut merupakan karunia Allah yang patut disyukuri.
Sering kali manusia baru mengingat Allah ketika berada dalam kesulitan, tetapi lupa bersyukur ketika kehidupannya lapang. Ada pula orang yang merasa rezekinya sedikit karena terlalu sering membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Padahal, apabila kita mau merenung, begitu banyak nikmat Allah yang telah kita terima dan bahkan tidak mampu kita hitung satu per satu.
Islam mengajarkan bahwa syukur bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah, melainkan juga meyakini bahwa nikmat berasal dari Allah, memuji-Nya atas karunia tersebut, serta menggunakan nikmat itu untuk melakukan kebaikan.
Allah SWT telah memberikan janji yang sangat jelas kepada hamba-Nya yang bersyukur: Dia akan menambah nikmat tersebut. Janji ini menjadi pengingat bahwa syukur memiliki kedudukan yang agung dalam kehidupan seorang Muslim.
1. Dalil Al-Qur’an tentang Janji Allah untuk Menambah Nikmat
Allah SWT berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Wa iż ta’ażżana rabbukum la’in syakartum la’azīdannakum wa la’in kafartum inna ‘ażābī lasyadīd.
Artinya:
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.’” (QS. Ibrahim: 7).
Ayat ini merupakan salah satu dalil paling kuat mengenai keutamaan bersyukur. Allah SWT menjanjikan tambahan nikmat kepada orang-orang yang bersyukur. Sebaliknya, mengingkari nikmat merupakan perbuatan yang harus dihindari karena mendatangkan ancaman dari Allah.
Tambahan nikmat tidak selalu berarti bertambahnya uang atau harta. Allah dapat menambahkan rezeki dalam berbagai bentuk, seperti kesehatan yang terjaga, keluarga yang harmonis, pekerjaan yang berkah, ilmu yang bermanfaat, hati yang tenang, hubungan yang baik dengan sesama, serta kemudahan dalam menjalankan ibadah.
Seseorang mungkin memiliki penghasilan yang sederhana, tetapi hidupnya terasa cukup, keluarganya bahagia, tubuhnya sehat, dan hatinya tenang. Sementara itu, orang lain mungkin memiliki harta berlimpah, tetapi selalu merasa kekurangan dan tidak pernah menikmati apa yang dimilikinya.
Oleh karena itu, kita perlu memahami bahwa rezeki bukan hanya tentang jumlah yang kita miliki, melainkan juga tentang manfaat, keberkahan, dan kebaikan yang Allah berikan melalui rezeki tersebut.
2. Syukur Merupakan Perintah Allah SWT
Allah SWT berfirman:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
Fażkurūnī ażkurkum wasykurū lī wa lā takfurūn.
Artinya:
“Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152).
Ayat ini menunjukkan bahwa bersyukur bukan sekadar pilihan, melainkan bagian dari ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT.
Syukur mengajarkan kita untuk tidak melupakan Sang Pemberi nikmat ketika memperoleh keberhasilan. Ketika mendapatkan pekerjaan, kita bersyukur. Ketika memperoleh penghasilan, kita bersyukur. Ketika keluarga diberikan kesehatan, kita bersyukur. Bahkan ketika hanya memiliki makanan sederhana untuk hari ini, kita tetap bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk hidup dan menikmati karunia Allah.
Orang yang bersyukur tidak harus menunggu menjadi kaya. Ia bersyukur dalam keadaan lapang maupun sempit, sebab ia menyadari bahwa setiap nikmat yang dimiliki adalah amanah dari Allah.
3. Apa Makna Syukur yang Sebenarnya?
Syukur dalam Islam mencakup tiga hal utama.
Pertama, bersyukur dengan hati.
Syukur dengan hati berarti meyakini bahwa semua nikmat pada hakikatnya berasal dari Allah SWT. Kita boleh bekerja keras, belajar, berdagang, bertani, atau menjalankan usaha, tetapi kita tidak boleh melupakan bahwa kemampuan, kesempatan, dan hasil yang kita peroleh terjadi atas izin Allah.
Keyakinan ini menjauhkan seseorang dari kesombongan. Ketika berhasil, ia tidak merasa bahwa keberhasilan itu semata-mata karena kehebatannya sendiri.
Kedua, bersyukur dengan lisan.
Syukur dengan lisan dilakukan dengan memuji Allah, mengucapkan alhamdulillah, memperbanyak zikir, serta menceritakan nikmat Allah dengan cara yang baik tanpa kesombongan.
Allah SWT berfirman:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
Wa ammā bini‘mati rabbika faḥaddiṡ.
Artinya:
“Terhadap nikmat Tuhanmu, nyatakanlah (dengan bersyukur).” (QS. Ad-Duha: 11).
Ayat ini mengajarkan pentingnya mengakui nikmat Allah. Menyebut nikmat untuk mengungkapkan rasa syukur dan memberikan inspirasi kepada orang lain berbeda dengan memamerkan kekayaan demi kesombongan.
Ketiga, bersyukur dengan perbuatan.
Syukur yang sesungguhnya tercermin dalam cara kita menggunakan nikmat. Jika Allah memberikan harta, gunakanlah untuk memenuhi kebutuhan yang halal, menafkahi keluarga, bersedekah, dan membantu orang yang membutuhkan.
Jika Allah memberikan ilmu, amalkan dan ajarkanlah untuk kebaikan. Jika Allah memberikan kesehatan, gunakanlah untuk beribadah dan bekerja dengan jujur. Jika Allah memberikan jabatan, gunakanlah untuk menegakkan keadilan dan membantu masyarakat.
Dengan demikian, syukur bukan hanya ucapan, melainkan sikap hidup yang nyata.
4. Dalil Hadis tentang Pentingnya Bersyukur
Rasulullah ﷺ mengajarkan agar seorang Muslim senantiasa melihat nikmat Allah dan tidak hanya terpaku pada kekurangan dirinya.
Dalam hadis sahih, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah kepada kalian.”
(HR. Muslim, no. 2963).
Hadis ini memberikan pelajaran yang sangat penting. Dalam urusan dunia, ketika kita terus-menerus membandingkan diri dengan orang yang lebih kaya, lebih terkenal, atau lebih sukses, kita dapat kehilangan rasa cukup dan lupa terhadap nikmat yang sudah ada.
Sebaliknya, ketika kita mengingat orang-orang yang menghadapi kesulitan lebih besar, kita belajar menghargai kesehatan, makanan, tempat tinggal, pekerjaan, dan kesempatan yang masih Allah berikan.
Hadis ini bukan berarti kita dilarang memiliki cita-cita atau berusaha memperbaiki kehidupan. Islam tetap mendorong umatnya untuk bekerja keras dan mencari rezeki yang halal. Maksudnya, jangan sampai keinginan untuk memperoleh lebih banyak membuat kita meremehkan nikmat yang sudah ada.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya semua perkaranya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh seorang mukmin. Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.”
(HR. Muslim, no. 2999).
Hadis ini menunjukkan bahwa seorang mukmin memiliki dua sikap utama dalam menghadapi kehidupan: bersyukur ketika memperoleh kesenangan dan bersabar ketika menghadapi kesulitan.
Keduanya merupakan jalan kebaikan. Ketika mendapat rezeki, ia tidak sombong. Ketika rezekinya belum sesuai harapan, ia tidak berputus asa. Ia tetap berusaha, berdoa, memperbaiki diri, dan bertawakal kepada Allah.
5. Apakah Orang yang Bersyukur Pasti Mendapatkan Lebih Banyak Uang?
Janji Allah dalam Surah Ibrahim ayat 7 harus dipahami secara benar. Allah menjanjikan tambahan nikmat kepada orang yang bersyukur, tetapi kita tidak boleh menyempitkan maknanya menjadi jaminan bahwa setiap orang yang bersyukur akan langsung menjadi kaya atau memperoleh uang dalam jumlah tertentu.
Allah memberikan rezeki dengan hikmah-Nya. Ada orang yang memperoleh kelapangan harta, ada yang diberi kesehatan, ada yang dikaruniai keluarga yang baik, dan ada yang diberi ketenangan hati serta kekuatan menghadapi ujian.
Rezeki juga dapat hadir melalui terbukanya kesempatan kerja, bertambahnya keterampilan, bertemunya dengan orang-orang yang baik, terhindar dari kerugian, atau kemampuan mengelola penghasilan secara lebih bijaksana.
Karena itu, jangan memahami syukur sebagai rumus untuk memaksa Allah memberikan kekayaan sesuai keinginan kita. Syukur adalah bentuk ibadah, pengakuan atas karunia-Nya, dan ketaatan kepada-Nya.
Seorang Muslim tetap perlu bekerja, belajar, merencanakan keuangan, menjaga amanah, serta menjauhi penghasilan yang haram. Syukur dan ikhtiar harus berjalan beriringan.
Orang yang bersyukur tidak berhenti berusaha. Sebaliknya, rasa syukur mendorongnya untuk bekerja lebih baik, menjaga kepercayaan, serta menggunakan rezeki secara bertanggung jawab.
6. Hubungan antara Syukur, Rezeki, dan Keberkahan
Rezeki yang berkah adalah rezeki yang membawa kebaikan dan manfaat, bukan sekadar rezeki yang berjumlah besar.
Seseorang dapat memiliki penghasilan yang tidak terlalu tinggi, tetapi mampu memenuhi kebutuhan pokok, menyekolahkan anak, membantu orang tua, dan menyisihkan sebagian hartanya untuk sedekah. Ia merasa cukup karena menggunakan hartanya secara bijaksana dan tidak memaksakan diri mengikuti gaya hidup orang lain.
Sebaliknya, seseorang yang berpenghasilan besar belum tentu merasakan ketenangan apabila terus-menerus mengejar keinginan, berutang demi gengsi, atau menggunakan hartanya untuk hal-hal yang merugikan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati.”
(HR. Al-Bukhari, no. 6446, dan Muslim, no. 1051).
Hadis ini tidak mengajarkan bahwa harta tidak penting. Harta tetap dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menjalankan tanggung jawab. Namun, kekayaan hati membuat seseorang tidak diperbudak oleh harta.
Ia dapat berusaha menjadi lebih baik tanpa kehilangan ketenangan. Ia dapat menikmati karunia Allah tanpa merendahkan orang lain. Ia juga dapat berbagi tanpa merasa bahwa sedekah akan membuat kehidupannya tidak berarti.
Inilah salah satu buah syukur: hati yang lebih lapang dan kemampuan melihat rezeki secara lebih bijaksana.
7. Kisah Teladan tentang Syukur dalam Al-Qur’an
Salah satu teladan syukur dalam Al-Qur’an adalah Nabi Sulaiman عليه السلام. Allah memberikan kepadanya berbagai karunia dan kekuasaan yang besar.
Ketika Nabi Sulaiman menyaksikan salah satu karunia Allah kepadanya, beliau berkata sebagaimana diabadikan dalam Surah An-Naml ayat 40:
هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ
Hāżā min faḍli rabbī liyabluwanī a’asykuru am akfur.
Artinya:
“Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya).” (QS. An-Naml: 40, petikan ayat).
Perkataan Nabi Sulaiman memberikan pelajaran bahwa nikmat bukan hanya anugerah, tetapi juga ujian. Kekayaan, jabatan, kecerdasan, dan keberhasilan dapat menguji apakah seseorang tetap rendah hati atau justru menjadi sombong.
Nabi Sulaiman tidak menjadikan keberhasilannya sebagai alasan untuk membanggakan diri. Beliau mengakui bahwa semua itu merupakan karunia Allah dan menjadi kesempatan untuk menunjukkan rasa syukur.
Dari teladan ini, kita belajar bahwa semakin banyak nikmat yang diterima, semakin besar pula tanggung jawab untuk menggunakannya dengan benar.
8. Cara Mempraktikkan Syukur agar Hidup Lebih Berkah
Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
1. Membiasakan mengucapkan alhamdulillah.
Awali dan akhiri kegiatan dengan mengingat Allah. Setelah makan, selesai bekerja, menerima kabar baik, atau melewati kesulitan, biasakan memuji Allah dengan tulus.
2. Menjaga salat dan ibadah.
Ibadah merupakan salah satu bentuk syukur kepada Allah. Jangan hanya rajin berdoa ketika membutuhkan sesuatu, tetapi lalai beribadah setelah keinginan terpenuhi.
3. Bekerja dan mencari rezeki yang halal.
Syukur harus disertai tanggung jawab. Carilah nafkah dengan cara yang halal, jujur, dan tidak merugikan orang lain. Jangan menjadikan keinginan memperoleh kekayaan sebagai alasan untuk melakukan kecurangan.
4. Mengelola penghasilan dengan bijaksana.
Bedakan kebutuhan dan keinginan, hindari pemborosan, penuhi tanggung jawab keluarga, serta siapkan tabungan sesuai kemampuan. Mengelola rezeki dengan baik merupakan bentuk menjaga amanah.
5. Gemar bersedekah.
Berbagi merupakan salah satu wujud syukur atas nikmat harta. Sedekah tidak harus besar. Memberi sesuai kemampuan, membantu tetangga, atau menyediakan makanan bagi orang yang membutuhkan pun dapat menjadi amal kebaikan.
6. Tidak meremehkan nikmat kecil.
Air bersih, udara yang dapat dihirup, tubuh yang masih mampu bergerak, keluarga yang menyayangi kita, dan kesempatan memperbaiki kesalahan adalah nikmat yang sering terlupakan.
7. Mengurangi kebiasaan membandingkan diri.
Jangan menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran mutlak kebahagiaan. Jadikan keberhasilan orang lain sebagai inspirasi untuk berusaha, bukan sebagai alasan untuk membenci kehidupan sendiri.
8. Tetap bersyukur ketika diuji.
Bersyukur bukan berarti harus menyukai kesulitan atau berpura-pura tidak sedih. Seseorang boleh merasa lelah dan berdoa agar kesulitannya diangkat. Namun, ia tetap berusaha menjaga iman, mengambil pelajaran, dan tidak berputus asa dari rahmat Allah.
9. Doa agar Menjadi Hamba yang Pandai Bersyukur
Di antara doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ kepada Mu’adz bin Jabal adalah:
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Allāhumma a‘innī ‘alā żikrika wa syukrika wa husni ‘ibādatik.
Artinya:
“Ya Allah, tolonglah aku agar dapat mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.”
(HR. Abu Dawud, no. 1522, dan An-Nasa’i, no. 1303).
Doa ini mengajarkan bahwa kemampuan untuk bersyukur juga perlu dimohonkan kepada Allah. Terkadang manusia mengetahui pentingnya syukur, tetapi mudah mengeluh ketika menghadapi masalah atau lupa kepada Allah ketika sedang sibuk mengejar dunia.
Karena itu, mintalah pertolongan Allah agar hati tetap terjaga, lisan terbiasa memuji-Nya, dan perbuatan kita mencerminkan rasa syukur.
Kita juga dapat berdoa dengan bahasa sendiri, misalnya:
“Ya Allah, jadikanlah aku hamba-Mu yang pandai bersyukur atas segala nikmat yang Engkau berikan. Berkahilah rezekiku, cukupkanlah kebutuhanku dengan cara yang halal, jauhkanlah aku dari sifat tamak dan sombong, serta bimbinglah aku agar dapat menggunakan nikmat-Mu untuk beribadah dan membantu sesama. Amin.”
Doa tambahan tersebut merupakan doa pribadi dengan susunan kata sendiri, bukan kutipan hadis.
10. Hikmah yang Dapat Dipetik dari Sikap Syukur
Ada beberapa hikmah penting dari membiasakan diri bersyukur.
Pertama, syukur menguatkan hubungan seorang hamba dengan Allah karena ia menyadari bahwa hidup dan segala karunia yang dimiliki berasal dari-Nya.
Kedua, syukur membantu seseorang mengembangkan sikap merasa cukup dan menghargai apa yang dimiliki, tanpa menghentikan usaha untuk memperbaiki kehidupan.
Ketiga, syukur mendorong penggunaan nikmat secara bertanggung jawab. Harta tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk keluarga dan orang yang membutuhkan.
Keempat, syukur membantu seseorang menghadapi perubahan kehidupan. Ketika mendapatkan keberhasilan, ia tetap rendah hati. Ketika mengalami kesulitan, ia tetap berusaha dan bersabar.
Kelima, syukur menjadikan seseorang lebih peka terhadap nikmat yang sering dianggap biasa. Ia belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu bergantung pada banyaknya harta, tetapi juga pada keberkahan, kesehatan, hubungan yang baik, dan ketenangan hati.
Kesimpulan
Bersyukur merupakan perintah Allah sekaligus jalan untuk memperoleh tambahan nikmat dan keberkahan hidup. Allah SWT secara tegas menyatakan dalam Surah Ibrahim ayat 7 bahwa jika manusia bersyukur, Dia akan menambah nikmat kepada mereka.
Syukur tidak cukup hanya diucapkan melalui lisan, tetapi harus diwujudkan melalui hati yang mengakui karunia Allah dan perbuatan yang menggunakan nikmat untuk kebaikan. Rasulullah ﷺ juga mengajarkan agar seorang Muslim bersyukur ketika memperoleh kesenangan dan bersabar ketika menghadapi kesusahan.
Kita perlu memahami bahwa rezeki tidak hanya berupa uang. Kesehatan, keluarga, ilmu, kesempatan bekerja, hati yang tenang, serta kemampuan untuk beribadah juga merupakan karunia yang sangat berharga.
Oleh sebab itu, jangan menunggu kaya untuk bersyukur. Bersyukurlah dalam keadaan apa pun, sambil terus bekerja, berdoa, memperbaiki diri, dan mencari rezeki yang halal.
Ingatlah, tugas kita adalah bersyukur dan berikhtiar, sedangkan Allah memberikan tambahan nikmat sesuai kehendak dan hikmah-Nya. Semoga kita menjadi hamba yang tidak hanya pandai meminta, tetapi juga pandai berterima kasih kepada Allah atas segala karunia-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
JIKA KAMU BERSYUKUR, ALLAH AKAN MENAMBAH NIKMAT DAN REZEKI
Artikel Lainnya
Harga Rp. 350.000 Beli di TOKOPEDIA klik https://www.tokopedia.com/raibycom/premium-ts-shampoo-shampo-atasi-rambut-rontok-botak-500ml-free-100ml TS Shampoo 500 ml + free: Shampoo 100 ml (travel size) ...
Harga Jual Rp. 10.000 Link Beli TOKOPEDIA https://www.tokopedia.com/raibycom/gandum-utuh-pakan-ternak-makanan-burung-dara-ayam-merpati-pos-tekukur Link Pembelian SHOPEE https://shopee.co.id/GANDUM-UTU...
Harga Rp. 273.000 Tas koper alumunium kecil (suitcase aluminum) dilengkapi 2 kunci pengaman, untuk menyimpan 1 atau 2 unit hand gun, 2 mag, atau menyimpan barang berharga lainnya. Panjang 28cm, lebar ...
Harga Rp. 49.500 Lem untuk memasang karet bet pingpong, lem ini berbasis air / water base glue (wbg), ukuran 35ml, BONUS SPONS sesuai gambar, produk made in Indonesia. Beli di TOKOPEDIA klik https://w...

Saat ini belum tersedia komentar